Close Klik 2x

Bung Karno Pernah Kritik Amerika Secara Sadis! Ini Isi Pidatonya

MUSLIMTERBARU – Amerika sering terlibat secara langsung dengan berbagai macam konflik yang terjadi di negeri lain. Semisal Irak dan daratan Arab lainnya. Dulu Amerika juga masuk dalam konflik yang terjadi di Vietnam.

Amerika sering terlibat secara langsung dengan berbagai macam konflik yang terjadi di negeri lain. Semisal Irak dan daratan Arab lainnya. Dulu Amerika juga masuk dalam konflik yang terjadi di Vietnam.  Dalam setiap konflik tersebut, Amerika hampir selalu mengatasnamakan kemanusiaan dan peradaban baru. Di Irak, Amerika dengan segala macam terorinya menuduh Saddam Hussein sebagai penajahat keji, hingga akhirnya pemimpin Irak tersebut berakhir hidupnya di tiang gantungan.   Eksekusi mati tersebut mendapat kecaman dari berbagai kalangan di penjuru dunia. Seperti dilansir republika.co.id, Mantan PM Malaysia Dr Mahathir Mohammad, misalnya, menilai justru Presiden George Bush dan PM Tony Blair penjahatnya.  Mahatir menyatakan bahwa sebenarnya yang tangannya berlumuran darah orang-orang Irak adalah mereka. Barat justru lebih kejam dibandingkan denga Saddam sendiri.  Semenjak Amerika beserta para sekutunya menyerang Irak, setidaknya 650 ribu rakyat Irak mati terbunuh dengan keji. Belum lagi ada 3.000 tentara Irak juga tewas dalam medan tempur selama negeri adidaya itu menginvasi Irak.  Seharusnya, kata Mahathir, Bush yang mesti diadili untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perangnya.  Suara-suara tentangan kepada Amerika sebenarnya sudah ada sejak dari dulu. Apa yang dikatakan oleh Mahathir tersebut juga senada dengan apa yang pernah dipidatokan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.  Bung Karno, dalam pidato 17 Agustus 1965 berjudul “Tahun Berdikari” mengkritik Amerika secara keras. Proklamator Indonesia tersebut mengecam serangan bom-bom Amerika ke daratan Vietnam. Bung Karno menyebut Amerika sebagai “Kaum Imperalis”  ”Paling suka menyebut dirinya beradab. Mereka juga paling suka menganggap kita-kita biadab. Sehingga mereka harus datang dengan pasukan-pasukannya, armada-armadanya, dengan pangkalan-pangkalan perangnya untuk mengajarkan peradaban.” kata Bung Karno dengan tegas.  Soekarno menyindir Amerika yang datang menyerang dengan mengatasnamakan perdamaian.  “Mereka yang datang dari jarak 20 ribu km, mereka itu menganggap sebagai pembela perdamaian. Sedangkan rakyat Vietnam yang tinggal di negerinya sendiri dianggap agresor. Salah satu harus gila. Apakah rakyat Vietnam atau AS. Kedua-duanya gila tak mungkin. Saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri mana yang gila dan mana yang waras.”  Amerika akhirnya kalah di Vietnam. Pasukan Amerika yang mati terbunuh jumlahnya jauh lebih banyak dibanding mereka yang harus meregang nyawa di Irak. Amerika akhirnya menarik mundur pasukannya dari Vietnam denga meninggalkan catatan buruk sejarah, peperangan yang banyak menghilangkan banyak nyawa.

Dalam setiap konflik tersebut, Amerika hampir selalu mengatasnamakan kemanusiaan dan peradaban baru. Di Irak, Amerika dengan segala macam terorinya menuduh Saddam Hussein sebagai penajahat keji, hingga akhirnya pemimpin Irak tersebut berakhir hidupnya di tiang gantungan.
Eksekusi mati tersebut mendapat kecaman dari berbagai kalangan di penjuru dunia. Seperti dilansir republika.co.id, Mantan PM Malaysia Dr Mahathir Mohammad, misalnya, menilai justru Presiden George Bush dan PM Tony Blair penjahatnya.

Mahatir menyatakan bahwa sebenarnya yang tangannya berlumuran darah orang-orang Irak adalah mereka. Barat justru lebih kejam dibandingkan denga Saddam sendiri.

Semenjak Amerika beserta para sekutunya menyerang Irak, setidaknya 650 ribu rakyat Irak mati terbunuh dengan keji. Belum lagi ada 3.000 tentara Irak juga tewas dalam medan tempur selama negeri adidaya itu menginvasi Irak.

Seharusnya, kata Mahathir, Bush yang mesti diadili untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perangnya.

Suara-suara tentangan kepada Amerika sebenarnya sudah ada sejak dari dulu. Apa yang dikatakan oleh Mahathir tersebut juga senada dengan apa yang pernah dipidatokan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Bung Karno, dalam pidato 17 Agustus 1965 berjudul “Tahun Berdikari” mengkritik Amerika secara keras. Proklamator Indonesia tersebut mengecam serangan bom-bom Amerika ke daratan Vietnam. Bung Karno menyebut Amerika sebagai “Kaum Imperalis”

”Paling suka menyebut dirinya beradab. Mereka juga paling suka menganggap kita-kita biadab. Sehingga mereka harus datang dengan pasukan-pasukannya, armada-armadanya, dengan pangkalan-pangkalan perangnya untuk mengajarkan peradaban.” kata Bung Karno dengan tegas.

Soekarno menyindir Amerika yang datang menyerang dengan mengatasnamakan perdamaian.

“Mereka yang datang dari jarak 20 ribu km, mereka itu menganggap sebagai pembela perdamaian. Sedangkan rakyat Vietnam yang tinggal di negerinya sendiri dianggap agresor. Salah satu harus gila. Apakah rakyat Vietnam atau AS. Kedua-duanya gila tak mungkin. Saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri mana yang gila dan mana yang waras.”

Amerika akhirnya kalah di Vietnam. Pasukan Amerika yang mati terbunuh jumlahnya jauh lebih banyak dibanding mereka yang harus meregang nyawa di Irak. Amerika akhirnya menarik mundur pasukannya dari Vietnam denga meninggalkan catatan buruk sejarah, peperangan yang banyak menghilangkan banyak nyawa.

Leave a Reply